Mengenal Peradaban Babilonia Kuno

Sungai Efrat dan Sungai Tigris

Sungai Efrat dan Sungai Tigris bermuara melalui teluk parsi dikenal mengalir secara bersamaan, akan tetapi dahulu mengalir secara sendiri-sendiri. Searah sejajar, bagian palung dua sungai menempati suatu dataran rendah yang subur. Sekitar 4000 tahun SM telah terbangun tanggul, bendungan, kanal, dan terusan yang memfasilitasi mengalirnya air menuju tanah pertanian babilonia yang subur.

Teknik pertanian, seni bangunan, dan penulisan: huruf paku membuktikan peradaban babilonia yang cukup maju pada zaman tersebut. Di antara sungai Efrat dan Tigris berbatasan langsung dengan daerah arab yang sebagian besar terselimuti gurun. Kemudian dari sanalah datang serbuan bangsa-bangsa peternak : mereka mengalahkan peradaban yang ada dan menggantinya dengan peradaban yang lebih maju.

Baca juga: Penduduk dan pertanian lembah sungai Eufrat dan Tigris

Perpindahan Bangsa-bangsa diantara Mesir dan Mesopotamia

(sumber Anderson: hal 31) Bangsa-bangsa semit (Samyah) yang menduduki tanah subur tersebut menjadikan negeri itu sebagai Babilonia Semit. Dalam mengembangkan peradabannya, meskipun mampu menerima peradaban yang dijumpai dan menyesuaikan diri dengan sempurna. Namun, bangsa semit tersebut tidak memiliki daya untuk menemukan hal-hal yang baru, selain mendapatkan sesuatu dari peradaban bangsa lain. 

Mesopotami dalam sejarah peradaban lembah sungai Efrat dan Tigris mendeskrisikan sistem kepemilikan tanah yang luas : yang berkuasa adalah raja, bangsawan, dan kaum rohaniawan. Petani dalam kapasitasnya hanya sebagai pengelola dan memastikan tetumbuhan tumbuh subur dan melimpah sesuai yang diharapkan. Di Babilonia, insinyur atau ahli teknik bangunan dan pengairan , ahli perbintangan, dan ahli ilmu pengetahuan dijalankan oleh para pemimpin agama. 

Berbeda dengan Babilonia, Mesir dalam menjalankan peradabannya lebih terpusat kepada para raja, sedangkan posisi pemimpin agama, walau tetap dianggap penting. Hanya sekadar bertugas dalam posisi ahli ilmu kebatinan dan pengetahuan.

Bangsa Mesir dan Babilonia mengenal satuan tahun berdasarkan lintasan benda langit yang terbagi atas 360 hari, 12 bulan, dan 52 minggu yang terdiri masing-masing sejumlah 7 hari, semua hal tersebut dilakukan berdasarkan ilmu falak ( ilmu yang mempelajari lintasan benda langit ). 

Selain ilmu falak, Kesusastraan yang maju juga terlihat berelasi dengan dongeng tentang hewan dan cerita keagamaan, misalnya riwayat taman firdaus dan nabi Ayub yang jua terdapat di dalam Alkitab. Karena hal tersebut, terdapat pendapat hipotesis mengenai agama bangsa Israel yang berelasi dengan agama bangsa Babilonia, serta akibatnya terdapat perkembangan agam-agama samawi lainnya seperti Kristen dan Islam. 

Dalam menjalankan ritus keagamaan cenderung dingin dan kurang tegas. Padanya tidak terdapat catatan yang mengungkapkan kesalehan dan ketaatan orang Babilonia, kesetiaan orang-orang Israel dan kesukaan mediasi oleh orang Aria, selain dari pengingkaran dan catatan azab yang Tuhan turunkan kepadanya. 

Suatu hal yang cukup dingin untuk diharapkan oleh bangsa barat yang mengharapkan keindahan yang justru tidak terdapat di dalam dinginnya relief yang dilukiskan di dinding dan lantai bangunan bangsa-bang tersebut. Akan tetapi jika kita kaitkan dengan masa tersebut, kiranya peradaban orang-orang yang mendiami lembah sungai Efrat dan Tigris cukuplah menakjubkan.

Daftar Kepustakaan

  • Daldjoeni.N.1982.Geografi Kesejaharah.Salatiga : Alumni/1995/Bandung  

Pos terkait